 |
Bersama tim Ecoton, Young Changemakers dan anak muda Gresik yang mantap banget |
15 Maret 2011
Pesawat saya mendarat pukul 7 pagi. Dari Bandara Juanda saya langsung menuju Wringinanom Gresik, lokasi kantor Ecoton yang akan menjadi tempat bermukim saya selama di Jawa Timur. Jarak tempuh ke Wringinanom bisa dibilang cukup jauh. Wringinanom merupakan sebuah kecamatan, yang juga nama desa, yang berbatasan dengan Mojokerto dan Sidoarjo. Setelah kira-kira satu jam perjalanan dengan ongkos taksi 185 ribu rupiah, akhirnya tiba juga di kantor Ecoton.
Desa Wringinanom terletak di pinggir kali Brantas bagian hilir. Kira-kira jarak 10 menit sebelum mencapai desa, di sepanjang jalan berderet pabrik-pabrik besar, mulai dari pabrik kertas, makanan, dll. Pabrik-pabrik ini pun berdiri tepat di pinggir kali Brantas. Pabrik memanfaatkan kali Brantas sebagai saluran pembuangan limbah, sementara masyarakat yang tinggal di bantaran kali memanfaatkannya untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK). Tak jarang juga masyarakat memanfaatkan aliran kali Brantas sebagai tempat pembuangan sampah.
Sesampainya di Wringinanom saya bergegas mencari sarapan. Setelah menitipkan tas bawaan di kantor Ecoton, saya berjalan-jalan di sekitar, mencari sarapan sambil mengamati kehidupan masyarakat Wringinanom. Saya berjalan tak lebih dari 500 meter, di kiri kanan hanya terdapat beberapa penjual sarapan, kebanyakan menjual nasi pecel. Sepanjang pengamatan saya, nasi pecel merupakan menu sarapan andalan di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Akhirnya saya tiba di sebuah warung sederhana dan memesan sepiring nasi pecel + telor ceplok.
Ada pemandangan menarik nan unik di depan warung nasi pecel ini, sebuah sekolah dasar (SD). SD ini sangat menarik perhatian saya dan membuat saya tersenyum lebar. Pertama karena banyak sekali jajanan SD yang menarik dan saya akhirnya tergoda untuk membeli es krim. Harga es krimnya sangat murah, 500 rupiah! Harga yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Hal kedua adalah sepeda. Sementara banyak orang mengkampanyekan gerakan bike to school, bersepeda ke sekolah sudah merupakan hal yang biasa bagi anak-anak di sekolah ini. Kalaupun tidak punya sepeda, orang tuanya dengan senang hati mengantar-jemput dengan menggunakan sepeda.
Ketakjuban berlanjut ketika saya bertemu dan berbincang dengan anak-anak muda Wringinanom. Berkat Ecoton, anak-anak muda Wringinanom kenal dengan kali Brantas serta permasalahan yang terjadi. Tidak hanya kenal, mereka bahkan peduli dengan nasib kali Brantas. Tidak hanya peduli, mereka bahkan berinisiatif mengembangkan gagasan sosial untuk menjawab permasalahan yang ada di kali Brantas, tepatnya di sekitar rumah mereka.
Sore itu saya bertemu dengan Kokom, seorang pelajar SMAN 1 Wringinanom yang mengembangkan Carbon Bank. Kokom mengajak orang-orang untuk menginvestasikan uangnya dalam bentuk bibit tanaman produksi yang kemudian ditanam di daerah bantaran kali Brantas. Dalam pemeliharaannya, Kokom mengajak masyarakat dan pemuda sekitar untuk ikut merawat tanaman tersebut. Ketika panen, Kokom akan membagi hasilnya dengan para investor, masyarakat dan pemuda yang sudah merawat tanaman dan juga timnya. Melalui Carbon Bank, Kokom yakin bisa mengembalikan fungsi ekologis bantaran dan juga memberi manfaat ekonomi bagi masyrakat.
Selain Kokom, saya bertemu dengan Dharma, seorang pelajar SMAN 1 Driyorejo. Dharma prihatin dengan maraknya jajanan tidak sehat di kantin sekolahnya. Ia meneliti berbagai zat yang terkandung di dalam jajanan tersebut dan menemukan bahwa jajanan tersebut mengandung zat aditif yang sebenarnya tidak baik bahkan beberapa berbahaya bagi tubuh. Dharma akhirnya membuat jajanan sehatnya sendiri dan menjualnya ke teman-teman satu sekolah. Ia pun mengembangkan pertanian organik di lahan sekolah. Bersekolah di sekolah ‘mewah’ (mepet sawah) memang asik karena masih punya banyak lahan yang bisa ditanami. Tidak berhenti sampi disitu, berkat dukungan sekolah Dharma pun mengembangkan kantin sehat. Semua penjual yang berjualan di kantin sehat harus menjual makanan sehat yang diproduksi sendiri. Dharma juga aktif mengedukasi teman-teman di sekolahnya mengenai bahaya zat aditif melalui berbagai media kreatif. Saat ini ia mengembangkan Dokter Kantin, teman-teman sekolahnya diajak untuk juga meneliti dan mempublikasikan hasil penelitian sederhananya mengenai jajanan di kantinnya.
Kokom dan Dharma mendapat apresiasi dari Ashoka sebagai Young Changemakers –anak muda yang terampil dalam menerapkan empati sosial, bekerja dalam kelompok, menjadi pemimpin dan mampu membuat perubahan bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Selain Kokom dan Dharma, masih banyak anak muda lain disana yang juga menggagas inisiatif sosial. Ada Agni yang menggagas Lomba Masak Makanan Sehat bagi para pedagang di kantin sekolahnya, ada teman-teman lain yang menggagas Gerakan Maskerisasi untuk mencegah penyakit terkait sistem pernafasan yang diakibatkan oleh polusi pabrik semen dan masih banyak lagi anak muda lainnya.
Tidak hanya anak muda, orang dewasanya pun turut serta menggagas inisiatif sosial. Ada yang menanam tanaman obat dan mengolahnya menjadi jamu untuk mengobati berbagai macam penyakit, ada juga yang mengembangkan batik pewarna alam dengan motif hewan khas Brantas. Semua warga masyarakat bergotong royong, bersatu padu menyelamatkan kali Brantas demi kehidupan mereka dan anak cucunya.