Tampilkan postingan dengan label Inspirational East Java. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirational East Java. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Kemiri

Selama ini kenal Kemiri hanya dalam bentuk yang sudah siap pakai. Biasanya saya bertemu dengan Kemiri di dapur atau di warung. Saya baru tau pohon kemiri, biji kemiri dan segudang arti penting Kemiri bagi kehidupan masyarakat di Wonosalam bulan lalu pada saat saya melakukan perjalanan yang luar biasa keliling Jatim.

Liat-liat bibit Kemiri di halaman rumahnya Pak Wagisan, Kepala Dusun disana
Jalan jalan sambil denger cerita dari Pak Wagisan
Ini dia pohon Kemiri
Ternyata biji Kemiri tuh besar ya
Sebenernya biji Kemiri itu berpasangan, kata Mas Amir
Ayo cari lagi biji Kemiri yang udah jatuh
Menjadi pencari Kemiri

Jumat, 08 April 2011

Sekolah Lokal dan Kontekstual



MAN Faser
 

Sekolahnya berada di Wonosalam, sebuah desa yang berada di daerah yang lumayan tinggi dengan suhu udara yang dingin dan segar, suasana yang masih desa sekali, masih ada hutan, masih banyak burung dengan jenis yang beragam. Yang paling menarik adalah di desa ini terdapat banyak sekali mata air yang menghidupi banyak keluarga di banyak desa, termasuk nantinya mengalir ke kali Brantas. 

Jika anak sekolah pada umumnya belajar mengenal hewan dan tumbuhan melalui buku dan internet atau ke kebun binatang, anak anak yang sekolah di MAN Faser belajar mengenal keanekaragaman hayati hutan tropis, termasuk hewan dan tumbuhannya di hutan alami langsung yang berada di belakang sekolah mereka! Betapa beruntungnya mereka! Saya berkali-kali menyampaikan kepada mereka bahwa mereka sangat beruntung memiliki hutan alami seluas 6 ha di belakang sekolah dengan 2 mata air di dalamnya. Saya sampaikan berkali-kali karena saya sangat kagum, takjub dan tidak ada hal lain yang sanggup diucapkan selain “Anak MAN Faser beruntung dan patut bersyukur punya hutan alami di belakang sekolah sebagai tempat belajar”. Yap, saya memang bertemu mereka di hutan alami tersebut (tepatnya tanggal 19 Maret 2011). Sewaktu berbincang dengan mereka pun sempat ada monyet ekor panjang yang lewat di hadapan kami. 

Anak-anak MAN Faser mengenal beberapa tumbuhan dan hewan yang ada di hutan alami tersebut. Istilah “tak kenal maka tak sayang” memang sesuai dengan apa yang dilakukan anak-anak ini. Mulai dari mengenal hingga akhirnya mereka mengembangkan inisiatif untuk melindungi mata air di hutan alami ini.  

SMANDRY

SMAN 1 Driyorejo terletak di pinggir kota Gresik, dekat dengan sawah, pabrik dan kali Brantas bagian hilir. Di daerah ini banyak sekali pabrik. Hilang sudah keunikan suasana desa karena banyaknya pabrik dan kendaraan truk tronton pembawa kontainer besar yang banyak berlalu-lalang di sepanjang jalan. Sungguh suasana yang sangat tidak enak. Suasana ini saya alami pada 12 Januari 2011.

Ciri khas sekolah ini adalah pertanian organik. Sekolah ini masih punya banyak lahan yang bisa ditanami. Bukan hanya sekedar menanam tanaman organik, Dharma, salah seorang siswa disini yang juga Ashoka Young Changemakers, berinisiatif mengolah hasil panennya menjadi jajanan sehat. Layaknya kantin sekolah pada umumnya, di sekolah ini juga banyak dijual jajanan kemasan dengan berbagai zat aditif. Dharma yang peduli akan kesehatan telah berhasil mengembangkan produk jajanan sehat berbahan dasar singkong dll yang didapat dari kebun di sekolahnya. Ia sudah menjualnya ke teman-teman dari kelas ke kelas. Tidak hanya itu, sekolah ini juga sekarang sedang membangun kantin sehat dimana nantinya semua pedagangnya akan menjual makanan sehat dengan sebagian bahan baku berasal dari kebun sekolah.      

SMPN 2 Kebomas

SMPN 2 Kebomas berada di kota Gresik. Menurut info dari kepala sekolahnya, sekolah ini dibangun diatas tanah kapur yang mana dulunya berfungsi sebagai kuburan. Sulit sekali menanam tanaman di tanah kapur ini. Walaupun begitu, sekolah ini berhasil menghijaukan dirinya dengan berbagai tanaman. Sungguh upaya yang patut diapresiasi. 

Saya datang ke sekolah ini atas ajakan partners in crime saya, Mas Amir. Beliau harus datang karena pada saat itu SMPN 2 Kebomas sedang didatangi juri Adiwiyata dalam rangka verifikasi lapangan. Sebagai salah satu lembaga mitra, Mas Amir hadir sebagai perwakilan dari Ecoton dan Padepokan Wonosalam Lestari (secara Mas Amir kan direkturnya, hehe.. maaf ya mas disebut sebagai direktur PWL). Saya duduk manis dan mendengarkan presentasi yang disajikan.

Hal yang menarik bagi saya adalah bagian aksi nyata yang dilakukan oleh siswa-siswanya. Demam berdarah merupakan wabah yang sering terjadi di wilayah ini. Oleh karena itu, di sekolah ini ada tim siswa yang berperan untuk mengurangi angka kasus deman berdarah di wilayah ini. Ada beberapa tim yang dibentuk, tentunya dengan peran yang berbeda-beda. Saya lupa persisnya nama setiap tim tapi yang pasti, yang saya ingat ada tim yang bertugas memantau rumah warga khususnya bak mandi. Mereka mendatangi rumah-rumah warga dan melihat apakah ada jentik nyamuk demam berdarah di rumah warga tersebut. Tim yang lain ada yang berperan dalam mensosialisasikan mengenai demam berdarah, solusi 3M, dll.

Hal lain yang menarik lagi adalah kantin sekolahnya. Semua makanan yang dijual di kantin sudah pasti dijamin sehat! Selain ada kebijakan kepala sekolah, pihak sekolah juga bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk memantau kantin ini. Sebulan sekali akan ada petugas puskesmas yang menilai dan menguji apakah makanan yang dijual sehat atau tidak. Yang membuat mata saya berbinar adalah harga jajanannya yang murah. Sayang waktu itu saya baru selesai makan siang sehingga tidak selera untuk icip-icip jajanan di kantin sehat ini. Lain waktu pasti icip-icip!

Satu hal lagi yang menarik di sekolah ini adalah ekskul radio, Bomaz radio. Saya waktu itu mendadak diundang untuk siaran. Sedikit menyalurkan kembali hasrat bercuap-cuap ria di udara sambil cerita sedikit tentang Young Changemakers. Walaupun radius jangkauan siarannya hanya 5 km dari sekolah, radio ini tetap keren dan pastinya mengasah skill siswa. Siswa-siswa ini juga mengembangkan program yang mendidik Sobat Bomaz (sapaan bagi pendengarnya) salah satunya adalah sosialisasi mengenai demam berdarah.


SMAN1WA

SMAN 1 Wringinanom terletak di pinggir kota Gresik. Saya belum pernah menginjakkan kaki di sekolah ini, hanya bertemu dengan siswa-siswanya yang ajaib. Sekolah ini berada di kecamatan Wringinanom dan dekat juga dengan kali Brantas. Hingga saat ini sudah ada 3 Ashoka Young Changemakers yang berasal dari sekolah ini dan masih akan ada terus di tahun-tahun berikutnya.

Entah bagaimana cerita awal mulanya, yang pasti siswa-siswa di sekolah ini memiliki kepedulian yang sangat amat besar terhadap kelestarian kali Brantas. Setiap siswanya memiliki initiative sosial untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di kali Brantas dan bantarannya. Dulu ada Sumarlina, Ashoka Young Changemakers 2009 yang mengembangkan gagasan Sensus Serangga Air, metode monitoring kualitas air sungai yang sangat sederhana yang sukses menjadikan setiap orang pemantau kualitas air kali Brantas. Ada juga Mega, Ashoka Young Changemakers 2009, yang mengembangkan Hutan Tani Bantaran, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan daerah bantaran sebagai lahan pertanian sambil menanam tanaman keras (pohon) daripada menjadikannya sebagai lahan membangun rumah. Ada Kokom, Ashoka Young Changemakers 2009, yang mengembangkan Carbon Bank. Dan masih banyak lagi siswa SMAN1WA yang akan menyusul menjadi Ashoka Young Changemakers. Saya rasa, hal ini terbangun berkat upaya Pak Syam mengembangkan model EES di sekolah ini.    

Rabu, 23 Maret 2011

Malang, So Cool..

16 Maret 2011

Agenda hari ini adalah bertemu dengan Pak Peter dari Ma Chung University untuk diskusi tentang memasukkan konten social entrepreneurship ke dalam kurikulum entrepreneurship. Selebihnya tidak ada agenda lain.

Pagi-pagi saya berangkat ke Malang bersama Mba Riska (Ecoton), kebetulan Mba Riska berencana ke kantor Perusahaan Jasa Tirta Malang. Dari kantor Ecoton, kami diantar Mas Amir ke tempat pemberhentian bis. Yang menarik di awal perjalanan ini adalah pengalaman pertama saya menyebrang kali Brantas menggunakan 'ferry' (kapal kayu kecil). Cukup deg-degan juga karena saya belum pernah menyebrang kali menggunakan perahu kayu sambil berdiri dan tidak pakai pelampung. Ini memang pengalaman yang membuat saya benar-benar merasakan berdetaknya jantung. Namun, bagi warga disini, hal ini sudah menjadi hal yang biasa.

Perjalanan dilanjut menggunakan bis menuju Terminal Bungurasih. Bis yang kami naiki berasal dari terminal di Jogja. Karena bis penuh akhirnya saya duduk di depan di samping 'kenek'. Keneknya baik, saya diajak ngobrol. Tiba di Terminal Bungurasih kami langsung mencari bis menuju Malang. Perjalanannya lumayan, sekitar 2 jam. Di perjalanan Mba Riska bertanya, "Dari terminal ke Ma Chung mau naik angkot apa?" Saya jawab, "Waktu itu naik angkot yang biru Mba." Mba Riska langsung bilang kalau di Malang angkotnya warna biru semua. Ups.. Di Bandung, saya terbiasa menghapal angkot berdasarkan warna dan ternyata itu tidak berhasil di Malang. Di Malang, angkot dibedakan berdasarkan inisialnya, misalnya ABG, AG, AT, dsb. Sungguh pengetahuan baru yang sangat berharga dan patut diingat! Setelah bertanya pada teman, akhirnya terjawab sudah bahwa menuju Ma Chung menggunakan angkot AT.

Diskusi dengan Pak Peter cukup seru. Mata saya terus berbinar membayangkan serunya proses perkuliahan kelas entrepreneurship. Dalam diskusi ini saya ditemani Ona, Ashoka Young Changemakers 2010. Ona memfasilitasi perempuan miskin untuk mengembangkan social enterprise di Situbondo dan Trenggalek. Ona dan tim mengorganisir dan melatih perempuan agar bisa memproduksi produk-produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci piring. Setelah bisa berproduksi, Ona memfasilitasi kelompok perempuan ini mengembangkan social enterprise. Ona berharap para perempuan ini bisa mandiri secara ekonomi dan memiliki kekuatan di masyarakat.

Setelah sedikit bershooting ria membuat video profil bersama Ona, saya meluncur ke Toko Oen. Toko yang sudah lama saya idam-idamkan. Jujur, ketika melihat menu, saya langsung bingung. Apa yang yang harus saya pilih? Untungnya saya sudah memfollow @PakBondan dan segera minta rekomendasi dan rekomendasinya adalah Peach Melba (es grim).

Wringinanom dan Brantas Hilir

Bersama tim Ecoton, Young Changemakers dan anak muda Gresik yang mantap banget

15 Maret 2011

Pesawat saya mendarat pukul 7 pagi. Dari Bandara Juanda saya langsung menuju Wringinanom Gresik, lokasi kantor Ecoton yang akan menjadi tempat bermukim saya selama di Jawa Timur. Jarak tempuh ke Wringinanom bisa dibilang cukup jauh. Wringinanom merupakan sebuah kecamatan, yang juga nama desa, yang berbatasan dengan Mojokerto dan Sidoarjo. Setelah kira-kira satu jam perjalanan dengan ongkos taksi 185 ribu rupiah, akhirnya tiba juga di kantor Ecoton. 

Desa Wringinanom terletak di pinggir kali Brantas bagian hilir. Kira-kira jarak 10 menit sebelum mencapai desa, di sepanjang jalan berderet pabrik-pabrik besar, mulai dari pabrik kertas, makanan, dll. Pabrik-pabrik ini pun berdiri tepat di pinggir kali Brantas. Pabrik memanfaatkan kali Brantas sebagai saluran pembuangan limbah, sementara masyarakat yang tinggal di bantaran kali memanfaatkannya untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK). Tak jarang juga masyarakat memanfaatkan aliran kali Brantas sebagai tempat pembuangan sampah.

Sesampainya di Wringinanom saya bergegas mencari sarapan. Setelah menitipkan tas bawaan di kantor Ecoton, saya berjalan-jalan di sekitar, mencari sarapan sambil mengamati kehidupan masyarakat Wringinanom. Saya berjalan tak lebih dari 500 meter, di kiri kanan hanya terdapat beberapa penjual sarapan, kebanyakan menjual nasi pecel. Sepanjang pengamatan saya, nasi pecel merupakan menu sarapan andalan di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Akhirnya saya tiba di sebuah warung sederhana dan memesan sepiring nasi pecel + telor ceplok. 

Ada pemandangan menarik nan unik di depan warung nasi pecel ini, sebuah sekolah dasar (SD). SD ini sangat menarik perhatian saya dan membuat saya tersenyum lebar. Pertama karena banyak sekali jajanan SD yang menarik dan saya akhirnya tergoda untuk membeli es krim. Harga es krimnya sangat murah, 500 rupiah! Harga yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Hal kedua adalah sepeda. Sementara banyak orang mengkampanyekan gerakan bike to school, bersepeda ke sekolah sudah merupakan hal yang biasa bagi anak-anak di sekolah ini. Kalaupun tidak punya sepeda, orang tuanya dengan senang hati mengantar-jemput dengan menggunakan sepeda.

Ketakjuban berlanjut ketika saya bertemu dan berbincang dengan anak-anak muda Wringinanom. Berkat Ecoton, anak-anak muda Wringinanom kenal dengan kali Brantas serta permasalahan yang terjadi. Tidak hanya kenal, mereka bahkan peduli dengan nasib kali Brantas. Tidak hanya peduli, mereka bahkan berinisiatif mengembangkan gagasan sosial untuk menjawab permasalahan yang ada di kali Brantas, tepatnya di sekitar rumah mereka.

Sore itu saya bertemu dengan Kokom, seorang pelajar SMAN 1 Wringinanom yang mengembangkan Carbon Bank. Kokom mengajak orang-orang untuk menginvestasikan uangnya dalam bentuk bibit tanaman produksi yang kemudian ditanam di daerah bantaran kali Brantas. Dalam pemeliharaannya, Kokom mengajak masyarakat dan pemuda sekitar untuk ikut merawat tanaman tersebut. Ketika panen, Kokom akan membagi hasilnya dengan para investor, masyarakat dan pemuda yang sudah merawat tanaman dan juga timnya. Melalui Carbon Bank, Kokom yakin bisa mengembalikan fungsi ekologis bantaran dan juga memberi manfaat ekonomi bagi masyrakat.

Selain Kokom, saya bertemu dengan Dharma, seorang pelajar SMAN 1 Driyorejo. Dharma prihatin dengan maraknya jajanan tidak sehat di kantin sekolahnya. Ia meneliti berbagai zat yang terkandung di dalam jajanan tersebut dan menemukan bahwa jajanan tersebut mengandung zat aditif yang sebenarnya tidak baik bahkan beberapa berbahaya bagi tubuh. Dharma akhirnya membuat jajanan sehatnya sendiri dan menjualnya ke teman-teman satu sekolah. Ia pun mengembangkan pertanian organik di lahan sekolah. Bersekolah di sekolah ‘mewah’ (mepet sawah) memang asik karena masih punya banyak lahan yang bisa ditanami. Tidak berhenti sampi disitu, berkat dukungan sekolah Dharma pun mengembangkan kantin sehat. Semua penjual yang berjualan di kantin sehat harus menjual makanan sehat yang diproduksi sendiri. Dharma juga aktif mengedukasi teman-teman di sekolahnya mengenai bahaya zat aditif melalui berbagai media kreatif. Saat ini ia mengembangkan Dokter Kantin, teman-teman sekolahnya diajak untuk juga meneliti dan mempublikasikan hasil penelitian sederhananya mengenai jajanan di kantinnya.

Kokom dan Dharma mendapat apresiasi dari Ashoka sebagai Young Changemakers –anak muda yang terampil dalam menerapkan empati sosial, bekerja dalam kelompok, menjadi pemimpin dan mampu membuat perubahan bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Selain Kokom dan Dharma, masih banyak anak muda lain disana yang juga menggagas inisiatif sosial. Ada Agni yang menggagas Lomba Masak Makanan Sehat bagi para pedagang di kantin sekolahnya, ada teman-teman lain yang menggagas Gerakan Maskerisasi untuk mencegah penyakit terkait sistem pernafasan yang diakibatkan oleh polusi pabrik semen dan masih banyak lagi anak muda lainnya.

Tidak hanya anak muda, orang dewasanya pun turut serta menggagas inisiatif sosial. Ada yang menanam tanaman obat dan mengolahnya menjadi jamu untuk mengobati berbagai macam penyakit, ada juga yang mengembangkan batik pewarna alam dengan motif hewan khas Brantas. Semua warga masyarakat bergotong royong, bersatu padu menyelamatkan kali Brantas demi kehidupan mereka dan anak cucunya.

Selasa, 22 Maret 2011

INSPIRATIONAL EAST JAVA


Dua bulan yang lalu saya melakukan perjalanan ke Jawa Timur. Pada waktu itu, agenda pekerjaan sangat padat sehingga saya hanya berhasil mencari kesempatan untuk berbincang dengan seorang kawan mengenai Jawa Timur dan isu sosialnya, yakni DAS Brantas. Tidak ada waktu bagi saya untuk berkeliling mendatangi dan mengalami pengalaman unik di tempat-tempat menarik.

Semenjak perjalanan itu, saya bertekad untuk kembali lagi ke Jawa Timur dan harus berkeliling mengunjungi tempat-tempat menarik tersebut. Saya terus memimpikannya dan akhirnya kesempatan itu datang! Bulan Maret saya berangkat lagi ke Jawa Timur dan kali ini tentunya berkeliling mengunjungi beberapa tempat yang sudah diidam-idamkan. 

Ikuti cerita perjalanan ini dalam kategori Inspirational East Java